Kain Skaf

Kain skaf pantai ukuran 115 x 180

kain skaf warna pinx, biru, hijau dan orange

Iklan

Sejarah Batik Jepara

Seni batik di Jepara telah ada sejak era Kartini. Sudah ada satu abad lebih era batik Jepara hilang dari peredaran.

”Batik sejak dahulu hingga sekarang masih dikerjakan oleh kalangan ibu-ibu. Maka dari itu tidak salah jika batik ini lebih dekat dengan seni ibu,” katanya.
Motif Baru

Motif batik peninggalan eyangnya itu ada yang berupa bunga kantil, salah satu pohonnya ada di belakang pendapa Kabupaten Jepara. Motif lain adalah Parang Gondosuli, dan motif Srikaton.

Motif terakhir ini bergaya Mataraman, namun berbeda dengan yang ada di Solo dan Yogyakarta yang lebih masyhur dengan istilah Srigunung. Kini Suyanti bersama paguyubannya sudah membikin setidaknya puluhan motif baru. ”Kami ingin bersama masyarakat Jepara menghidupkan kembali batik yang sejarahnya tenggelam,” tutur dia.

Larasati Suliantoro memaparkan, butuh keseriusan untuk tetap membumikan batik yang kini menjadi salah satu kekhasan Indonesia. Pihaknya yakin, batik akan tetap bisa diterima masyarakat.

Yang patut diperhatikan saat ini adalah membina generasi penerus yang memiliki perhatian terhadap batik. ”Butuh pendampingan dari para pembatik senior kepada yang generasi penerus,” katanya.

Bupati Jepara Hendro Martojo mengungkapkan, advokasi dilakukan pemkab dengan mengupayakan pendaftaran hak cipta untuk karya batik khas Jepara. Selain itu juga memperluas pengenalan batik, terutama untuk kalangan pelajar di sekolah yang khusus memberikan perhatian pada seni membatik.

Dia mengungkap, isi buku karya Rouffoer yang sudah diterjemahkan, yakni Kesenian Batik di Hindia Belanda dan Sejarahnya. Dalam buku itu disebutkan, RA Kartini pernah mengirim cenderamata ke Belanda berupa kain batik khas Jepara.